.
Loading

Jumat, 21 Desember 2012

Baiturrahman on History



         SEDERHANA, itulah kesan pertama ketika memandang sekolah ini pertama kali berdiri. Memang tidak salah. Sebab ruang kelasnya hanya ada 6, sementara kantor menempati ruang bekas masjid yang di-skat menjadi beberapa ruang untuk perpustakaan, ruang TU dan Kepala Sekolah. Luas tanah tak lebih dari 300 meter persegi. Terlihat bangunannya cukup tua dari dindingnya yang gampang mengelupas, hanya cat hijau yang cukup membuat adem sehingga gedung ini nampak ayem dan tenang ditempati sejumlah siswa yang belum seberapa jumlahnya.

Motivasi berdirinya sekolah ini juga sederhana. Hanya ingin membangun sekolah bermutu yang dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat, termasuk kaum dhu’afa dan anak-anak yatim. Yah, paling tidak itulah pikiran dari penggagasnya yang terdiri dari aktivis dan praktisi pendidikan, mereka adalah Hery Suyatna, Nandan Supriatna, Miftahul Huda, Irwan Trianto, Mintarsih, Dede Rodiah, Ahmad Tarmizi dan Nur Hidayati. Hal ini muncul dari fenomena mahalnya pendidikan di sekolah-sekolah bermutu yang umumnya hanya dinikmati oleh masyarakat kelas sosial ekonomi menengah keatas, padahal tak jarang anak-anak dari sosial ekonomi menengah kebawah juga banyak yang berpotensi menjadi kader bangsa di negeri ini. Kapan kesempatan mereka menikmati sekolah bermutu ?
 
Awal berdiri tahun 2003, pembicaraan yang paling inten didiskusikan para penggagas adalah konsep sekolah bermutu. Suatu sekolah terpadu yang mengembangkan potensi anak secara total, potensi fisik, akal, mental dan spiritual (ruhiyah) dengan cara menciptakan suasana menyenangkan bagi munculnya hubungan kerjasama antara guru dan orangtua sehingga sekolah tak ubahnya rumah bagi siswa, guru dan orangtua, mereka merasa sebagai suatu keluarga dalam proses belajar mengajar mengenai berbagai hal, mulai dari membaca dan menghafal Al-Qur’an, praktek ibadah dan akhlak Rasulullah, praktek doa sehari, sampai pada belajar mengendalikan emosi dan keterampilan memimpin orang lain (leadership). 
 
Pada awal ini jumlah siswa keseluruhan hanya 52 orang, diantaranya adalah anak-anak dari keluarga duafa’ dan anak yatim, terdiri dari 11 siswa kelas satu, 10 siswa kelas dua, 14 siswa kelas tiga dan 17 siswa kelas empat. Jumlah guru ada 8 orang, jauh lebih banyak dari pada jumlah kelasnya, mereka adalah penggagas sekaligus guru di sekolah ini. 
 
PINDAH LOKASI SEKOLAH
 
Sekolah yang beralamat di jalan Pulau Sumbawa 7 ini merupakan lokasi kedua. Setelah sebelumnya berlokasi di belakang masjid Amar Ma’ruf. Dan nama sekolahnyapun SDIT Amar Ma’ruf, sekolah yang terletak di Bulak kapal ini mulai berdiri tahun 2000. Setiap tahun penerimaan siswa baru terus bertambah. Hingga tahun 2003 sudah memiliki siswa dari jenjang kelas satu sampai kelas empat. Sebagai sekolah terpadu, guru-gurunya cukup banyak, tercatat ada 10 guru, Hery Suyatna, Nandan Supriatna, Miftahul Huda, Irwan Trianto, Mintarsih, Dede Rodiah, Ahmad Tarmizi, Rahmawati Nasution, Rosalina, dan Muti’ah. Tapi sayang akhirnya sekolah ini harus bubar hanya karena perbedaan visi antara guru dan pengurus yayasan.
 
Awalnya perbedaan visi menyebabkan para guru ingin keluar mengundurkan diri, ternyata siswa-siswi yang merasa dekat dan akrab dengan guru-gurunya menceritakan kepada orangtua mereka perihal guru-guru mereka yang hendak keluar meninggalkan mereka. Suasana kesedihan mengental dan menyatu, terjadilah pembelaan orangtua atau wali murid terhadap guru. Lalu ramai-ramai mereka menarik anak mereka keluar. 
 
Karena banyaknya dukungan wali murid terhadap guru, membuat para guru tidak tega meninggalkan murid-murid mereka, tapi kembali ke sekolah tersebut tidak mungkin. Maka terjadilah musyawarah demi musyawarah antara guru-guru dan para wali murid di rumah Bapak Syarifudin selaku salah satu wali murid. Semua menginginkan agar anak-anak tetap diajar dan dididik oleh guru-guru mereka, akhirnya disepakati mencari lokasi lain atau gedung yang bisa ditempati menjadi sekolah. 
 
Saat itu Heri Suyatna selaku Kepala Sekolah diajak oleh Bapak Sugiarto menemui Pak Agus Wahyu Sadikin selaku ketua yayasan Baiturrahman yang saat itu memiliki bangunan tua wakaf masyarakat sebanyak 6 ruang namun kondisinya memperihatinkan. Sehari-hari bangunan tersebut dipakai sebagai sarana pendidikan TPA dan MDA pagi hari pukul 07.30 sampai 09.00 dan sore hari pukul 16.30 sampai 17.30. Selaku ketua yayasan pak Wahyu merasa senang kalau wakaf ini dapat dimanfaatkan lebih optimal lagi. 
 
Lalu dibuatlah Nota Kesepakatan (MoU) antara pengurus yayasan Baiturrahman dengan Hery Suyatna dan kawan-kawan sebagai “pengelola SDIT”. Beberpa poin yang menjadi fokus MoU tersebut adalah :
 
1.      Tujuan pengelolaan sekolah adalah dakwah melalui pendidikan, investasi bagi kemajuan kualitas umat Islam
2.      Sekolah tidak berafiliasi dan berorientasi kepada satu faham, kelompok atau golongan kecuali hanya Islam berdasar tuntunan Al’quran dan As-Sunnah.
3.      Kesejahteraan tenaga pendidik menjadi tanggung jawab pengelola dan yayasan tidak ikut bertanggung jawab masalah keuangan sekolah (listrik, air, sampah, dll).
4.      Yayasan memberikan otonomi sepenuhnya mengenai manajemen pengelolaan, kurikulum dan keuangan kepada pihak pengelola.
5.      Keterbukaan dilakukan guna membangun hubungan harmonis antara pengelola sekolah dan pengurus yayasan
6.      Segenap pengelola sebagai penggagas SDIT melebur sepenuhnya sebagai warga masyarakat dan jama’ah Baiturrahman secara totalitas ikut serta memakmurkan masjid Baiturrahman.
7.      Pengelolaan TPA dan MDA yang ada diintegrasikan pengelolaannya atas koordinasi pengelola SDIT.
 
MoU tersebut ditanda tangani oleh pengurus yayasan, yaitu : H. Rasyidin Al-Gamar (almarhum), Agus Wahyu Sadikin, Setyono, Muntoha, Cecep Hidayat, M. Shodry, Dewi Sumiati, Ahmad Suhaeri, Hamdi Kardani dan Manut Siswosetiono. Sedang dari pengelola SDIT, semua penggagas ikut menanda tangani, yaitu : Hery Suyatna, Miftahul Huda, Ahmad Tarmizi, Irwan Trianto, Dede Rodiah, Nur Hidayati dan Nandan Supriyatna.
 
Setelah ada Mou, legalah hati bahwa sudah ada tempat dimana guru-guru dan para siswa dapat bersatu kembali melaksanakan proses belajar mengajar, hanya saja kondisi bangunan kelas saat itu betul-betul tidak layak ditempati apalagi untuk mengelola sekolah semacam SDIT. Lantai semennya sudah banyak yang berlobang, tidak jauh berbeda dengan plafonnya yang sudah pecah-pecah. Begitu pula dindingnya yang sebagian besar plesternya terkelupas. Harus dilakukan renovasi dahulu sebelum ditempati. 
 
Ternyata ketika musyawarah entah yang keberapa kali di rumah pak Syarifudin, beliau menyanggupi melakukan renovasi ruang kelas tersebut dengan tenaga dan biaya sendiri. Sebab waktu itu SDIT tidak memiliki dana sama sekali. Renovasi meliputi perbaikan plafon, dinding di plester kembali dan lantai dipasang kramik, baik di dalam kelas maupun teras kelas.
Usai renovasi, awal tahun ajaran baru, Juli 2003 SDIT kembali beroperasi namun berganti nama dengan SDIT Baiturrahman mengikuti nama yayasan dan nama masjid yang sudah ada sebelumnya. Hampir semua siswa SDIT Amar Ma’ruf kembali ke sekolah ini, kelas satu sampai kelas empat begitu pula guru-gurunya kecuali Rahmawati Nasution, Rosalina dan Muti’ah. Ibu Herlina memilih menjadi guru senior di SDIT Permata Hati dan bu Muti’ah menjadi guru SDIT Nurul Ilmi sedang Rahmawati Nasution memilih berwirausaha di rumah.
 
Baru setahun beroperasi kembali tiba-tiba Bapak Heri Suyatna menyatakan tidak bisa melanjutkan tugas beliau sebagai Kepala Sekolah disebabkan harus mendampingi istri beliau yang dokter PNS mendapat tugas di Bengkulu. Maka jabatan Kepala Sekolah dilanjutkan oleh Ahmad Tarmizi.
 
PERTOLONGAN ALLAH
 
Disadari sepenuhnya banyak sekali pertolongan Allah swt dalam mengembangkan sekolah ini. Mulai dari mendapatkan perluasan tanah, mendapatkan izin operasional sekolah dari Dikdas, memperoleh predikat “terakreditasi A”, sampai kemudahan-kemudahan yang Allah berikan dalam mendidik siswa-siswi menjadi anak-anak yang sholeh dan sholihah.
 
Kesadaran ini harus diyakini sepenuhnya, bahwa upaya manusia itu lemah dan tidak akan menghasilkan apa yang diharapkan tanpa campur tangan dari Allah swt. Oleh karenanya semua guru terutama pimpinan harus berupaya agar Allah swt ikut turun tangan sehingga ada keberkahannya. Kalau Allah swt lepas tangan maka pasti tidak akan ada keberkahan disana. Hal ini menjadi dasar bahwa pendidikan anak harus memadukan ikhtiar dan doa, menjaga kedekatan diri kepada Allah, menjaga hak-hak Allah dan menjauhi hal-hal yang tidak di ridhoi-Nya semisal saling menzolimi atau menahan hak orang lain.  
 
Sejak beroperasi kembali muncul keinginan untuk sesegera mungkin memperoleh kepercayaan masyarakat, karenanya diawal berdiri ini langsung diuruskan surat-surat resmi izin operasional dari Dikdas Kota Bekasi, perluasan tanah dan pengurusan Akreditasi Sekolah. Peran orangtua masih sangat dominan, termasuk menguruskan surat-surat resmi tersebut, melengkapi kebutuhan kelas dan kebutuhan lainya. Pada tahun pertama ini wali murid memilih Ketua Komite Sekolah pertama yaitu Bapak Syarifudin. 
 
Kekuatan doa bagi dakwah dibidang pendidikan ini menghasilkan sesuatu yang tidak terduga, tahun 2004 alhamdulillah mendapat perluasan tanah dari Pemda Kota Bekasi atas tanah Pasos-Pasum yang digunakan SDIT Baiturrahman menjadi 1.620 meter persegi, terdiri dari 500 meter untuk masjid dan 1.120 meter untuk SDIT. Luas tanah ini memenuhi syarat sebuah sekolah sesuai standar Dikdas, oleh karenanya tahun 2005 keluar “Izin Operasional Sekolah” untuk SDIT Baiturrahman.
 
Tidak perlu menunggu waktu terlalu lama, doa menjadi modal segalanya, tahun 2006 Baiturrahman termasuk sekolah yang akan diakreditasi oleh Diknas Kota Bekasi. Hasilnya? Alhamdulillah Baiturrahman mendapat predikat “terakreditasi A”. Ini bukti komitmen guru-guru bahwa mereka serius mendirikan sekolah, mendidik anak-anak bangsa khususnya anak-anak muslim menghantarkan mereka mengenal agamanya, mengenal Allah swt, mengenalkan Rasulullah saw dan tahu cara berbakti dan berterima kasih kepada kepada kedua orangtua mereka. Inilah misi dakwah tidak ringan yang mesti diemban.
 
YAYASAN BARU
 
Tahun berganti, tiba masa kepengurusan Komite Sekolahpun harus berganti dari pak Syarifudin pindah kepada pak Subur Subagjawan, juga wali murid. Setelah tidak menjabat ketua Komite Sekolah, pada tahun 2007 pak Syarifudin diusulkan menjadi ketua yayasan, menggantikan pak Agus Wahyu Sadikin. Maka sesuai dengan UU No 16 tahun 2001 tentang yayasan, dibikin akte baru yayasan Baiturrahman menjadi Yayasan Pendidikan Islam Baiturrahman Aren Jaya.
 
Dewan Pembina yayasan baru ini adalah : Agus Wahyu Sadikin, ust Rifqi Hadi dan Rasono. Dewan pengurus H. A. Syarifudin (ketua), Tanuri (sekretaris) dan Cecep Hidayat (bendahara). Kemudian Dewan Pengawas adalah : M. Sholeh Arsyad, M. Shodry, Syafri Junut, Yayat Hidayat, M. Subki, Zainuddin dan Manut Siswosetiono. 
 
Ketika Komite Sekolah dipimpin oleh Bapak Miftah Rohman, bangunan kelas mulai sedikit berubah, sebab beliau yang menggagas  pembangunan ruang kelas baru yang waktu itu ruang kelas yang ada sudah dirasa kurang, kepercayaan masyarakat terus meningkat, penerimaan siswa baru terus membludak. Langkah awal beliau berinfak sebesar 50 juta, mulailah para orangtua ramai-ramai berinfak shodaqoh sehingga akhirnya tahun 2009 jadilah dua ruang kalas baru.
 
Semangat itu terus berlanjut, apalagi sekolah beberapa kali menerima bantuan Diknas Pusat masing-masing sebesar 80 juta akhirnya tahun 2010 bertambah lagi 5 ruang kelas baru. Saat membuat tulisan ini sekolah sudah merobohkan 6 ruang kelas yang lama dan sedang membangun fondasi penggantinya yaitu 5 ruang baru yang Insya Allah direncanakan berlantai 3 sehingga nanti akan ada 15 ruang kelas baru. 
 
Saat ini jumlah siswa 287, terdiri dari 11 kelas dan jumlah guru ada 31 guru, 3 TU dan 2 petugas kebersihan. Komite Sekolah dipimpin oleh Bapak Ir. H. Iman Kukuh Santoso. Alumni pertama sudah mulai kuliah di semester satu, alhamdulillah salah satu alumni ada yang mampu diterima di fakultas Psikologi UI Depok. Juga diantara alumni ada satu yang mendapat beasiswa penuh diterima di Sekolah Insan Cendikia Gorontalo.
 
Sebagian besar alumni melanjutkan pendidikannya ke sekolah bording atau pondok pesantren. Hampir semua pesantren di Bekasi dan sebagian pesantren di Bogor ada alumni SDIT Baiturrahman, termasuk pesantren di Subang dan Jakarta. Ada juga pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur semisal PPM Gontor Ponorogo. Hal ini sesuai dengan harapan guru-guru agar ilmu yang ditimba di Baiturrahman dapat dilanjutkan di pesantren, apalagi saat sekarang ini pesantrenlah alternatif sekolah yang mampu membendung pengaruh negatif dari lingkungan pergaulan anak.
 
Insya Allah selesai bangunan kelas tiga lantai akan segera dilakukan perluasan serambi masjid agar mampu menampung siswa-siswi yang semakin banyak, terutama pada waktu pelaksanaan sholat zuhur dan ashar. Suatu pandangan yang membanggakan jika masjid yang megah memiliki lembaga pendidikan yang bermutu. Pendidikan ini yang akan menanamkan kemuliaan masjid kepada anak-anak yang pada saatnya merekalah yang akan meramaikan jama’ah sholat di masjid sehingga masjid tetap ramai dari tahun ke tahun. Bayangkan masjid yang tidak peduli dengan pendidikan anak-anak, tidak ada TPA atau MDA, bisa jadi dalam waktu 15 atau 20 tahun mendatang sepi dari jama’ah sholat karena sudah banyak yang meninggal sementara generasi mudanya tidak dididik mengenal masjid. Wallahu a’lam.
 
Data Siswa SDIT Baiturrahman
 
PERIODE
Kelas 1
Kelas 2
Kelas 3
Kelas 4
Kelas 5
Kelas 6
JUMLAH
2003-2004
11
10
14
17


52
2004-2005
12
11
10
14
17

64
2005-2006
22
14
13
12
14
17
92
2006-2007
25
22
15
16
13
15
106
2007-2008
23
25
22
15
16
13
114
2008-2009
25
23
25
23
17
16
129
2009-2010
52
25
22
25
22
19
165
2010-2011
32
54
26
22
27
22
183
2011-2012
54
37
55
27
24
29
226
2012-2013
88
56
37
55
27
24
287

1 komentar: